A. Pembuatan
Batik Tulis secara Tradisional
Proses pembuatan batik tulis secara tradisional
hanya menggunakan pewarna biru indigo dan soga dengan melewati 7 tahapan
pembuatan, yaitu:
- Mbathik atau Nglowong, yaitu membuat pola pada
kain dengan menempelkan malam menggunakan canthing tulis. Nglowong pada
sebelah kain disebut juga “ngengreng” dan setelah selesai dilanjutkan
dengan “nerusi” pada sebelah lainnya. Malam klowong yang digunakan
pada proses ini tidak boleh bertekstur terlalu ulet agar nantinya mudah
dikerok.
- Nembok, yaitu menutup bagian-bagian pola yang
akan dibiarkan berwarna putih menggunakan malam. Lapisan malam mini
berfungsi sebagai tembok penahan zat pewarna agar jangan merembes ke
bagian yang ditembok. Malam tembok harus memiliki tekstur kuat dan ulet.
- Medel, yaitu mencelup kain yang telah diberi
malam kedalam pewarna untuk memberikan warna dasar. Pada zaman dahulu,
warna dasar ini adalah warna biru tua menggunakan bahan pewarna Indigo
(bahasa jawanya adalah tom). Bahan pewarna ini tebilang sangat lambat
untuk diserap oleh kain, sehingga harus dilakukan berulang kali.
- Ngerok dan Nggirah, yaitu menghilangkan lilin
dari bagian-bagian yang akan diberikan warna soga. Biasanya proses ini
menggunakan alat yang dinamakan cawuk (semacam pisau tumpul).
- Mbironi, yaitu menutup bagian-bagian yang akan
tetap berwarna biru. Proses ini dilakukan pada kedua sisi kain.
- Nyoga, yaitu mencelup kain kedalam pewarna soga.
Sebagaimana Medel, proses ini jika menggunakan pewarna alam juga harus
dilakukan secara berulang dan setiap kali selesai pencelupan maka harus
dikeringkan di udara terbuka.
- Nglorod, yaitu menghilangkan lilin batik
menggunakan air mendidih.


